Artikel

PUASA ARAFAH

HUKUM DAN KEUTAMAAN PUASA ARAFAH

Puasa Arafah adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzul Hijjah, yaitu ketika para Jamaah haji wukuf di Arafah, maka orang-orang diluar Arafah disunnahkan untuk melaksanakan puasa. Sedangkan mereka yang wukuf di Arafah, maka tidak disunnahkan untuk berpuasa.

Dalam kitab Al Majmu’, Imam Nawawi mengatakan, “Adapun puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: hukumnya sunnah bagi yang tidak melakukan wukuf di Arafah. Sedangkan orang yang berhaji dan berada di Arafah, disunnahkan untuk tidak berpuasa, karena adanya hadits dari Ummul Fadhl, yang menyatakan; bahwa orang-orang berbantahan pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, kemudian beliau meminumnya”.[1]

Ada beberapa riwayat hadits yang menyebutkan keutamaan puasa Arafah, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan imam Muslim dan yang lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, ada yang mengatakan bahwa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil. Ada juga yang berpendapat bahwa pengampunan ini sifatnya umum, baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar.[2]

Imam An Nawawi rahimahullah berkata;

قوله صلى الله عليه وسلم: “صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده” معناه يكفر ذنوب صائمه في السنتين، قالوا: والمراد بها الصغائر،

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang’ ; maknanya adalah menghapuskan dosa-dosa bagi orang yang berpuasa pada hari itu selama dua tahun. Mereka (para ulama) berkata : Maksudnya adalah menghapus dosa-dosa kecil”.

Kemudian beliau melanjutkan;

أنه ان لم تكن صغائر يرجى التخفيف من الكبائر فان لم يكن رفعت درجات

“Sekiranya bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar yang ringankan. Jika bukan itu, semoga ditinggikan derajatnya.”[3]

Al Mawardi berkata; bahwa hadits ini mempunyai dua makna;

Pertama, Allah mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun.

Kedua, Allah menjaganya untuk tidak berbuat dosa-dosa selama dua tahun

As Sarkhasiy berkata : ‘Adapun tahun pertama, maka dosa-dosanya akan diampuni’. Kemudian beliau melanjutkan, ‘Para ulama berbeda pendapat mengenai makna penghapusan dosa di tahun selanjutnya (tahun depan). Sebagian mereka mengatakan, maknanya apabila seseorang melakukan kemaksiatan pada tahun itu, maka Allah akan menjadikan puasa ‘Arafah yang ia lakukan di tahun lalu sebagai penghapusnya, sebagaimana ia menjadi penghapus dosa di tahun sebelumnya. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa maknanya adalah Allah menjaganya dari melakukan dosa yang membutuhkan penghapusan di tahun depan.”[4]

Wallahu a’lam.

(bersambung)….

[1] Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab 6/379

[2] Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa 7/498-500

[3] Lihat Syarh Muslim 8/ 51

[4] Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab 6/381

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim Salam Care Indonesia siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamualaikum ...